Filed under: Uncategorized
Mazmur 130:6 (BIS)
Aku merindukan TUHAN, lebih dari seorang peronda merindukan fajar.
Pernahkah kita mendapat tugas menjadi tukang ronda? Mungkin mama-mama pernah meronda untuk menjaga bayinya yang sakit semalam suntuk, mungkin para bapa pernah mendapat tugas meronda di kompleknya, mungkin kita pernah meronda menjaga seorang sepupu yang sakit. Meronda… terjaga dalam kurun waktu tertentu untuk menjaga sesuatu. Apa perasaan setelah meronda??? tentu saja setelah sekian lama menjaga kita akan menjadi cape dan ingin segera beristirahat (belum lagi cape karena perasaan cemas dan khawatir dengan hal yang kita jaga). Kata “penjaga atau peronda” yang Daud gunakan dalam mazmur ini mengacu pada pengalamannya pada saat seorang penjaga benteng yang terus wasapada di malam hari. Kalau kita mencoba menghayati kita berperan di posisi itu, pasti kita terus menerus melirik jam tangan kita, pengen cepet-cepet pagi karena khawatir ada musuh yang tiba-tiba akan menyerang dalam kegelapan, “ cape… kapan paginya… kalau pagi kan enak… semua terang dan lebih banyak orang yang terjaga.” Yah mungkin seperti itulah perasaannya, pengen cepet-cepet ada fajar, pengen cepet-cepet istirahat, pengen cepet-cepet menikmati keamanan. Dengan situasi ini kalau kita hayati perkataan Daud, “lebih dari para penjaga mengharap fajar pagi demikianlah aku merindukan Tuhan” artinya Daud sungguh-sungguh merindukan dan menanti-nanti waktu untuk bertemu dan bersekutu dengan Tuhan. Merindukan Tuhan dengan kadungan perasaan yang merasa tidak nyaman tanpa-Nya, ada kandungan kerinduan yang mendalam… cinta yang menggelora… kebutuhan untuk terus dan terus mencari Allahnya… Kerinduan sepeti itu yang membuat Allah begitu mengasihi Daud dan menyayangkannya menjadi orang nomor satu di hati Tuhan. Kalau kita melihat sikap hati Daud dalam mengasihi Tuhannya, bagaimana dengan kita hari ini? Apakah kita memiliki kerinduan yang seperti itu dalam berhubungan dengan Tuhan. Pernahkah kita melirik jam tangan kita terus menerus karena ingin segera bersaat-teduh, pernah kah kita menanti-nantikan saat-saat untuk kebaktian atau persekutuan bukan karena ada seseorang yang sedang kita “keceng”… pernahkah kita merasa betul-betul kangen sama Tuhan, pengen mendengar suaranya melalui firman, pengen berbicara dari hati ke hati dengan-Nya melalui doa… pengen banget mempercayai dan mengandalkan Dia melalui iman kita… Kalau kita adalah orang-orang yang pernah mengalami kasih dan cinta dari-Nya, kalau kita adalah orang-orang yang pernah mengalami kedahsyatan anugerah-Nya yang mengangkat kita dari jurang dosa dan kesusahan, kalau kita seroang yang pernah menyadari tentang berkat dan kemurahannya dalam hidup kita, pasti kita akan merindukan Allah seperti Daud. Saat teduh bakal menjadi suatu pemenuhan kerinduan kita kepada-Nya, ke gereja ga perlu di paksa-paksa lagi, melayani ga perlu diminta-minta (malah kita yang meminta-minta), berdoa menjadi momen yang paling ditunggu, bahkan menceritakan tentang cinta Tuhan kepada orang lain menjadi ‘the hottest-gossip’ sepanjang hidup kita. Saati ini, apabila kita adalah salah seorang yang pernah ngerasain kerinduan seperti itu tapi sekarang sudah ga ngerasain lagi… mari kembali datang pada Yesus, hitung kembali bukti-bukti kasih-Nya dengan melihat salib, mari hitung-hitungan tentang berkat-berkat-Nya dengan jarimu (kalau bisa keitung), renungkan kembali tentang penyertaan dan kesetiaan-Nya, tentang rasa-rasa damai saat bersama dengan-Nya… Dia menunggu kita kembali ke pelukan-Nya. Kalau hari ini ada diantara kita yang bahkan belum pernah merasakan kerinduan itu (walau bahkan bertahun-tahun kita sudah menjadi seorang Kristen), mari buka hati kita untuk sebuah pengorbanan di atas kayu salib yang telah Yesus sediakan bagi kita… Dia selalu menunggu dan alami keajaiban Fajar… kedamaian… sukacita… berkat… dan terlebih kasih yang melimpah…
Lebih dari segalanya kuberharap pada-Mu
Lebih dari para penjaga mengharap fajar pagi
Begitu rindu hatiku berada dekat-Mu
Alangkah dalam kasih-Mu memenuhi hidupku
Tenanglah jiwaku dalam naungan sayap-Mu
Menembus awan kelabu, pandang kemuliaan-Mu
Selalu ku rindu lekat dalam hati-Mu
Mengikuti rencana-Mu, Yesus Tuhan Rajaku
post by: andre
No Comments so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>