untuk yang sedang membutuhkan Allah
TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam. Keluaran 13:21
Allah berjalan di depan Bangsa Israel - menuntun langkah kehidupan mereka. Allah menuntun perjalanan mereka menuju ke tanah perjanjian melalui jalan yang terbaik. Tiang awan dan tiang api bagi Bangsa Israel di siang dan malam hari. Kitab Keluaran memberitahu kita bahwa tiang api dan tiang awan ini merupakan salah satu ‘Theophany’ (manifestasi wujud Allah yang nyata) terbesar yang di catat di Alkitab. Allah menunjukkan secara nyata diri-Nya yang teramat sangat besar melalui tiang awan dan tiang api. Luar biasa bukan?!? Di dalam bentuk ini Allah benar-benar menyatakan kepada manusia akan penyertaan-Nya yang sempurna. Allah selalu hadir bagi manusia, menuntun melalui jalan yang terbaik, memelihara, memberkati dan mengasihi mereka waktu siang ataupun malam.
Membayangkan hal ini saya selalu menjadi teramat sangat terharu.. Allah mempedulikan hidup saya.. Allah berjalan di depan saya.. Allah selalu bersama dengan saya sepanjang jalanan kehidupan saya.. Ia menyediakan apa yang saya perlukan.. Ketika kehidupan menjadi kering.. luka-luka hati infeksi.. masalah demi masalah membuat hidup menjadi lelah dan dahaga.. Allah tidak meninggalkan kita.. Ia selalu ada berjalan di depan kita, menyediakan keteduhan dan pemulihan bagi kita.. Ketika hidup menjadi suram.. segala sesuatu tampak gelap dan tidak ada harapan.. hati menjadi dingin karena kekhawatiran.. masa depan sulit untuk diprediksi.. Allah tidak meninggalkan kita, Ia tetap ada mempedulikan kita, memberikan kehangatan dan terang kehidupan.
Penyertaan-Nya yang sempurna dan nyata di gurun kehidupan orang Israel menjadi pernyataan-Nya juga bagi kehidupan kita hari ini. Apakah hari ini kita sedang tidak bisa melihat penyertaan-Nya yang nyata dalam kehidupan kita? Firman-Nya adalah bentuk penyertaan-Nya yang paling nyata di zaman ini. Tiang awan dan tiang api bagi orang Israel di sepanjang perjalanan kehidupan mereka melewati gurun, hari ini kita juga memiliki Firman Tuhan yang akan menuntun dan menerangi kita sehingga kita dapat terus berjalan siang dan malam.
“We don’t need to know where we’re going if we’re following the Shepherd”
post by: andre
me… it’s all about me…
Salah satu tanda akhir jaman adalah manusia menjadi semakin mencintai dirinya sendiri… alias egois. Yups… benar sekali. Orang-orang yang alturis (mementingkan kepentingan orang lain) sudah menjadi semacam benda antik di museum. Bahkan dalam gereja pun sangat sulit menemukan mahluk jenis gini. Dari hasil angket yang pernah saya bagikan kepada aktifis remaja (yang notabene menyatakan dirinya sebagai orang yang cukup dewasa kerohaniannya), hampir setengah dari kami sama sekali belum menganut dan tidak cukup tertarik dengan prinsip alturis ini… kami aktif luar biasa di gereja… kami melayani hampir setiap hari… kami menjadi pelayan di mimbar… tapi ironis sekali, secara tidak sadar kami melakukan semua itu untuk diri sendiri (jauh di lubuk hati… kita tau… seringkali kita melakukannya). Manusia dari jaman ke jaman akan semakin mementingkan dirinya sendiri… bukan Allah, bukan sesamanya… yang nomor satu itu saya… yang penting saya puas… yang penting saya nyaman dulu… baru pikirkan orang lain..
Firman Tuhan juga membahas tentang sikap ini dalam perumpaan tentang orang Samaria yang murah hati di Lukas 10:25-37. Dari perikop tersebut kita menemukan 3 tipe orang.
1. Orang yang berprinsip memberi karena KEUNTUNGAN
Saya akan menolong orang-orang yang bisa memberi keuntungan kepada saya (pemimpin yang dapat mempromosikan saya… temen-teman yang bisa dimanfaatkan, orang-orang yang berpengaruh… orang-orang yang bisa memenuhi keinginan saya, orang-orang yang berguna bagi saya, dst). [egois yang nyata].
Atau ini juga berarti… menghindar untuk menolong orang kalau tidak menguntungkan saya… Merugikan orang lain sih tidak… tapi jangan menganggu kepentingan saya… kamu ya kamu.. saya ya saya… kita tidak ada hubungan.. [egois yang tersembunyi]
Teman… bukankah kita hanya mementingkan diri sendiri… kita hanya memilih melakukan hal-hal yang kita suka… kita hanya akan menolong orang kalau… saya lagi ga sibuk… mood saya lagi baik… orang itu ga nyebelin… orang itu suatu saat bisa bantu saya… dst… kita gagal untuk melakukan Firman Tuhan. Seringkali kita hanya mementingkan orang-orang dengan harapan kita mendapatkan keuntungan dari mereka. Kalo mereka sudah tidak berguna lagi.. yah.. maap… c u bye bye…
[Bukan ini yang amsal maksud tentang orang yang memberi…]
2. Prinsip memberi karena PERINTAH
Artinya… saya hanya akan menolong orang-orang karena kewajiban saya… saya orang Kristen… so… saya harus menolong pengemis donk… apa kata dunia kalau saya tidak memberi pertolongan… saya kan seorang pelayan di gereja, jadi yah kalau ada orang yang minta pertolongan ga enak kalo saya tolak… dia kan orang-orang yang pernah menolong kita masa kita ga bales kebaikan dia… merekalah orang-orang yang pantas mendapatkan kebaikan kita… menyumbangkan uang buat orang miskin?? Itu kan urusan gereja… saya kan sudah perpuluhan… Angkat-angkat sound system yang berat… ah itu mah tugas perlengkapan bukan tugas saya… dst…
Yah… yang menjadi dorongan orang-orang seperti ini adalah harus-harus-harus dan harus… mereka menolong orang sebenarnya juga untuk kepentingan mereka sendiri. Seringkali mereka hanya melakukan hal yang sekedarnya… Motif seperti ini membuat pertolongan yang diberikan bersifat basa-basi… tidak sungguh-sungguh. Mottonya: “yang penting udah ditolong… udah bagus ditolong…”
Teman bukankan seringkali kita juga melakukan hal ini… kita hanya menolong karena rasa terpaksa… karena status… karena perintah… bukan karena kasih… bahkan kadang seringkali kita melakukannya karena Firman Tuhan… hal ini benar… tetapi tidak tepat… karena seharusnya Firman Tuhah mengajarkan kita untuk melakukan dengan prinsip yang ketiga.
3. Prinsip memberi karena ORANG LAIN BENAR-BENAR MEMBUTUHKANNYA
Artinya… saya akan menolong dan mengutamakan siapapun seperti Tuhan Yesus… kalau ada temen yang sedang bergumul saya akan berusaha menemaninya walau saya juga lagi BT (abis dia kayanya butuh pendengar yang baik)… saya akan mentraktir teman saya biar dia merasa dikasihi (bukan mengaharapkan suatu hari ditraktir balik)… saya akan menjadi teman yang baik (supaya dia mengalami Yesus… bukan supaya saya menjadi idolanya)…
Dorongan ini adalah apa yang Tuhan maksud… dorongan ini menimbulkan suatu tindakan alturis yang sejati… yang tidak asal… yang betul-betul bisa mengubah hidup orang. Tindakan yang benar-benar seperti Tuhan Yesus yang penuh denga kasih dan selalu bersedia melakukan yang terbaik bagi orang lain. Dan hari ini kalau kita ingin menjadi murid-Nya yang sejati… kita benar-benar harus mempelajari jurus yang paling ampuh, yaitu seni mengutamakan orang lain seperti Yesus.
Amsal 11:25 Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.
Dunia mengatakan untuk mempertahankan apa yang kita miliki sebisa mungkin, tetapi Allah memberkati mereka yang melepaskan harta, waktu dan energi –nya bagi sesamanya. Allah berjanji, ketika kita memberi, Dia akan menyediakan kebutuhan kita lebih daripada apa yang dapat kita miliki. Sukacita kebebasan dari hati yang tidak egois diberikan hanya kepada kita orang-orang yang tahu seni mengutamakan orang lain.
post by: andre
Alas! and did my Savior bleed
Alas and did my Savior bleed
And did my Sovereign die
Would He devote that sacred head
For such a worm as I
Was it for sins that I had done
He groaned upon the tree
Amazing pity, grace unknown
And love beyond degree
My God why would
You shed Your blood
So pure and undefiled
To make a sinful one like me
Your chosen precious child
Well might the sun in darkness hide
And shut His glories in
When Christ the mighty Maker died
For man the creature’s sin
Thus might I hide my blushing face
While His dear Cross appears
Dissolve my heart in thankfulness
And melt my eyes to tears
Music and chorus lyrics by Bob Kauflin
Lyrics by Isaac Watts
Lebih dari itu…
Lebih dari itu…
Gw cuma mengharapakan berkat-Mu
Padahal lebih dari itu…
Engkau sudah mempersiapkan yang terbaik
Gw hanya memilih apa yang gw suka
Padahal lebih dari itu…
Engkau menyediakan apa yang kubutuhkan
Gw cuma berusaha mengatasi masalah dengan kekuatiran
Padahal lebih dari itu…
Engkau sudah menyediakan tempat perlindungan
Plus damai sejahtera
Gw cuma memilih mengejar-Mu
Padahal lebih dari itu…
Engkau sudah menaruh hati padaku dan…
(Hoho… gw ga bertepuk sebelah tangan)
Gw cuma memilih perhatian-Mu
Padahal lebih dari itu…
Engkau sudah mencintaiku gila-gilaan
Gw hanya memilih kesempurnaan hidup
Padahal lebih dari itu…
Engkau menyediakan penerimaan tak bersyarat
Gw cuma tertarik dengan hadirat-Mu
Padahal lebih dari itu…
Engkau sudah memberikan diri-Mu untuk dijangkau
Gw hanya memilih tangan-Mu
Padahal lebih dari itu…
Engkau menyediakan bahu-Mu, menggendongku
Gw memilih sibuk dan kelelahan
Padahal lebih dari itu…
Engkau menyediakan kepuasan dalam ketenangan
Gw memilih perbuatan baik
Padahal lebih dari itu…
Engkau sudah memberikan 1 salib, cukup untuk selamanya
Lebih dari itu…
Engkau selalu mencariku…(andrea 2008)
Permohonan Terbaik
Nats: Amsal 30:7-9
Jangan sampai aku mengucapkan kata-kata curang dan dusta, dan jangan biarkan aku miskin atau kaya. Berikanlah kepadaku hanya apa yang kuperlukan. (Amsal 30:8 BIS)
Kalau MISALNYA suatu hari Malaikat Tuhan tiba2 muncul di hadapan kita seperti jin lampu ajaib menawarkan 2 permintaan, kira2 permintaan apa yang akan kita minta? (kalau orang licik pasti permintaan yang keduanya minta 5 permintaan lagi, ha8x.) Apapun yang kita minta pasti bakal jadi sangat menyenangkan jika kita memperolehnya (yah… walau ga ada jin lampu ajaibnya seengganya “make a wish” kita waktu ulang tahun udah dijawab… itu cukup). Sadar atau tidak sadar kita sering mengajukkan permohonan kepada Tuhan. Pengen punya HP baru, pengen punya laptop, pengen studynya sukses, pengen kuliah di luar negeri, pengen dapet kerjaan yang gajinya ratusan juta (ekstrim!), pengen punya pacar, pengen melayani dengan sungguh2, pengen ini, pengen itu… semuanya kita minta. Meminta itu boleh, make a wish di hari ulang tahun juga ga salah (walau sebetulnya permohonan di hari ultah ga lebih special daripada permohonan hari lain), tapi permohonan kita akan jauh lebih baik pada saat permohonan kita sesuai dengan Firman Tuhan. Kita akan belajar dari Amsal. Amsal 30 puluh ditulis oleh Agur (emang bukan Anggur!) (tidak banyak diketahui siapa itu Agur, tetapi banyak ahli menduga Agur adalah seorang guru yang sangat bijaksana yang berasal dari Kerajaan Lamuel di Arab bagian Utara) seorang yang sangat bijaksana. Seperti Salomo, Agur dipakai Tuhan untuk menumpahkan kebijaksanaannya bagi kita dengan mengajarkan 2 prinsip dasar terpenting pada saat kita akan mengajukan permohonan kepada Tuhan. Permohonan Agur yang pertama, “Jauhkan perkataan yang kosong (sia-sia, sombong) dan perkataan yang bohong (tidak benar)”. Artinya, Agur meminta hati yang bijaksana untuk meminta segala sesuatu yang benar/sejati dan menyenangkan hati Tuhan. Seringkali permintaan kita menjadi bom waktu bagi kita (orang-orang gede mulut kudu bertobat) karena motivasi yang sesungguhnya adalah kesombongan, kesia-siaan, dan hal-hal yang tidak kekal. Bisa jadi seringkali permohonan kita SEOLAH-OLAH baik, padahal jauh dalam hati kita, kita tau ada motivasi lain. Apakah pada saat kita berdoa tentang keberhasilan pelayanan kita adalah karena kita sungguh-sungguh mencintai Tuhan dan jiwa2 atau sebenarnya ada kepentingan pribadi lain dalam pelayanan yang kita doakan (nama baik kita, orang yang kita kecengin, harga diri, kekuasaan, dst). Apakah pada saat kita berdoa, Tuhan berikan saya teman hidup itu adalah permohonan yang didasari kebutuhan kita atau karena kita malu belum punya pacar dan kesepian – kurang perhatian. Permintaan yang didasarkan keinginan dipengaruhi banyak kedagingan, tetapi permintaan yang jujur berdasar pada kebutuhan akan dikabulkan Tuhan. Mari kita belajar untuk tidak mengajukan atau melakukan sesuatu dari titik yang salah yaitu kesobongan dan kesia-siaan. Permohonan yang kedua, “Berikanlah kepadaku hanya apa yang kuperlukan (bahasa Ibrani nya bagus banget – roti yang terbatas)”. Artinya, Agur meminta Tuhan untuk memberi segala sesuatu dengan pas sesuai dengan kebutuhan kita dan untuk kemuliaan Tuhan. Agur tahu, apabila Tuhan menyediakan secara berlebih akan membuat manusia menjadi angkuh dan tidak mengandalkan Tuhan, sebalikanya kekurangan akan membuat manusia berbuat dosa (terlalu khawatir, ingin jalan pintas, dst) sehingga nama Tuhan dipermalukan. Wah!!! prinsip yang sangat luar biasa… Seharusnya kita bergumul untuk menaikkan doa-doa seperti doa Agur. “Tuhan kalau boleh jangan buat saya punya terlalu banyak harta sehingga saya tidak mengandalkan Tuhan lagi, tapi jangan sampai saya menjadi terlalu miskin hingga harus mengemis dan tidak bisa memberkati orang lain – Tuhan jangan beri saya teman hidup yang terlalu sempurna sehingga saya mencintai dia lebih dari Engkau, tetapi jangan memberi teman hidup yang tidak tepat sehingga kerohanian saya tidak bertumbuh bahkan mati – Tuhan jangan beri saya kepandaian yang berlebih sehingga otak saya ingin menaklukan Engkau, tapi jangan beri kemampuan yang jongkok sehingga saya tidak dapat menunjukkan kehebatan-Mu – Tuhan jangan beri saya lingkungan yang terlalu nyaman sehingga saya tidak mau beranjak ke tempat yang Kau tunjukkan, tetapi jangan juga beri lingkungan yang terlalu berbahaya yang dapat membuat saya kehilangan iman. Tuhan jangan beri saya yang berlebihan, tetapi jangan beri saya yang terlalu kurang… hanya beri saya apapun yang Kau anggap cukup menurut takaran-Mu, Amin.”
Prinsip doa Agur seharusnya menjadi prinsip dalam mengajukan permintaan kita kepada Allah. Kita punya 24 jam sehari untuk mengajukan permohonan kita kepada Tuhan, tetapi alangkah baiknya apabila kita tidak terlalu terburu-buru untuk mengajukkannya… mari cek terlebih dahulu, apakah permintaan kita murni dan jujur atas apa yang kita butuhkan (bukan inginkan), dan apakah porsi permintaan kita sudah tepat menurut porsi Tuhan. Pasti doa kita menjadi permohonan terbaik yang akan diperkenan Allah.
post by: andre
RINDU (menantikan Tuhan lebih dari segalanya)
Mazmur 130:6 (BIS)
Aku merindukan TUHAN, lebih dari seorang peronda merindukan fajar.
Pernahkah kita mendapat tugas menjadi tukang ronda? Mungkin mama-mama pernah meronda untuk menjaga bayinya yang sakit semalam suntuk, mungkin para bapa pernah mendapat tugas meronda di kompleknya, mungkin kita pernah meronda menjaga seorang sepupu yang sakit. Meronda… terjaga dalam kurun waktu tertentu untuk menjaga sesuatu. Apa perasaan setelah meronda??? tentu saja setelah sekian lama menjaga kita akan menjadi cape dan ingin segera beristirahat (belum lagi cape karena perasaan cemas dan khawatir dengan hal yang kita jaga). Kata “penjaga atau peronda” yang Daud gunakan dalam mazmur ini mengacu pada pengalamannya pada saat seorang penjaga benteng yang terus wasapada di malam hari. Kalau kita mencoba menghayati kita berperan di posisi itu, pasti kita terus menerus melirik jam tangan kita, pengen cepet-cepet pagi karena khawatir ada musuh yang tiba-tiba akan menyerang dalam kegelapan, “ cape… kapan paginya… kalau pagi kan enak… semua terang dan lebih banyak orang yang terjaga.” Yah mungkin seperti itulah perasaannya, pengen cepet-cepet ada fajar, pengen cepet-cepet istirahat, pengen cepet-cepet menikmati keamanan. Dengan situasi ini kalau kita hayati perkataan Daud, “lebih dari para penjaga mengharap fajar pagi demikianlah aku merindukan Tuhan” artinya Daud sungguh-sungguh merindukan dan menanti-nanti waktu untuk bertemu dan bersekutu dengan Tuhan. Merindukan Tuhan dengan kadungan perasaan yang merasa tidak nyaman tanpa-Nya, ada kandungan kerinduan yang mendalam… cinta yang menggelora… kebutuhan untuk terus dan terus mencari Allahnya… Kerinduan sepeti itu yang membuat Allah begitu mengasihi Daud dan menyayangkannya menjadi orang nomor satu di hati Tuhan. Kalau kita melihat sikap hati Daud dalam mengasihi Tuhannya, bagaimana dengan kita hari ini? Apakah kita memiliki kerinduan yang seperti itu dalam berhubungan dengan Tuhan. Pernahkah kita melirik jam tangan kita terus menerus karena ingin segera bersaat-teduh, pernah kah kita menanti-nantikan saat-saat untuk kebaktian atau persekutuan bukan karena ada seseorang yang sedang kita “keceng”… pernahkah kita merasa betul-betul kangen sama Tuhan, pengen mendengar suaranya melalui firman, pengen berbicara dari hati ke hati dengan-Nya melalui doa… pengen banget mempercayai dan mengandalkan Dia melalui iman kita… Kalau kita adalah orang-orang yang pernah mengalami kasih dan cinta dari-Nya, kalau kita adalah orang-orang yang pernah mengalami kedahsyatan anugerah-Nya yang mengangkat kita dari jurang dosa dan kesusahan, kalau kita seroang yang pernah menyadari tentang berkat dan kemurahannya dalam hidup kita, pasti kita akan merindukan Allah seperti Daud. Saat teduh bakal menjadi suatu pemenuhan kerinduan kita kepada-Nya, ke gereja ga perlu di paksa-paksa lagi, melayani ga perlu diminta-minta (malah kita yang meminta-minta), berdoa menjadi momen yang paling ditunggu, bahkan menceritakan tentang cinta Tuhan kepada orang lain menjadi ‘the hottest-gossip’ sepanjang hidup kita. Saati ini, apabila kita adalah salah seorang yang pernah ngerasain kerinduan seperti itu tapi sekarang sudah ga ngerasain lagi… mari kembali datang pada Yesus, hitung kembali bukti-bukti kasih-Nya dengan melihat salib, mari hitung-hitungan tentang berkat-berkat-Nya dengan jarimu (kalau bisa keitung), renungkan kembali tentang penyertaan dan kesetiaan-Nya, tentang rasa-rasa damai saat bersama dengan-Nya… Dia menunggu kita kembali ke pelukan-Nya. Kalau hari ini ada diantara kita yang bahkan belum pernah merasakan kerinduan itu (walau bahkan bertahun-tahun kita sudah menjadi seorang Kristen), mari buka hati kita untuk sebuah pengorbanan di atas kayu salib yang telah Yesus sediakan bagi kita… Dia selalu menunggu dan alami keajaiban Fajar… kedamaian… sukacita… berkat… dan terlebih kasih yang melimpah…
Lebih dari segalanya kuberharap pada-Mu
Lebih dari para penjaga mengharap fajar pagi
Begitu rindu hatiku berada dekat-Mu
Alangkah dalam kasih-Mu memenuhi hidupku
Tenanglah jiwaku dalam naungan sayap-Mu
Menembus awan kelabu, pandang kemuliaan-Mu
Selalu ku rindu lekat dalam hati-Mu
Mengikuti rencana-Mu, Yesus Tuhan Rajaku
post by: andre
Open My Eyes Lord
Open My Eyes Lord [melihat apa yang tidak dilihat mata]
2 Raja-Raja 6:8-23
Pada perikop ini diceritakan bagaimana Elisa seorang Abdi Allah yang setia dikepung oleh tentara Aram. Bujang Elisa melihat bahwa tempat kediaman mereka sudah dikepung oleh tentara Aram yang sangat banyak dan ia sangat ketakutan. Bujang itu melapor kepada Elisa mengenai apa yang dilihatnya di luar. Dengan tenang Elisa berdoa kepada Allah dan meminta Allah membuka mata bujangnya itu untuk melihat ada sangat benyak tentara Allah yang siap untuk melindungi mereka. Bujang Elisa tidak lagi takut ketika dia melihat tentara sorga menjaga mereka.
Alkitab mencatat kejadian ini sebagai salah satu bukti tentang perlindungan dan penyertaan yang Allah berikan kepada umat-Nya. Lewat kejadian ini Allah ingin menunjukkan kepedulian-Nya terhadap kita umat-Nya. Peristiwa ini menjadi salah satu bukti bahwa Allah akan selalu menjadi penolong yang sangat bisa diandalkan dalam hidup kita. Kalau hari ini kita sedang mengalami peperangan, kita sedang bergumul dengan masalah-masalah yang begitu hebat dan besar sehingga lutut kita menjadi gentar… berdoalah agar Allah membuka mata iman kita untuk melihat kemengangan yang Allah janjikan. Kalau hari ini kondisi kita begitu terjepit, kita sedang merasa berada di posisi yang tidak menguntungkan, kita tidak dapat maju atau mundur… berdoalah agar Allah membuka mata iman kita untuk melihat harapan dari sorga. Apabila hari ini kondisi kita begitu rapuh karena kesulitan ekonomi, kita khawatir akan hari esok, kita menjadi begitu lelah dan tidak tahu harus melakukan apa… mintalah Allah membuka mata hati kita untuk melihat pemeliharaan-Nya yang terbaik dan termewah selalu Ia kirim setiap hari.
Iman membuat kita percaya bahwa Allah melakukan lebih daripada yang bisa kita bayangkan atau kita lihat. Ketika kita mengalami kesulitan dan nampaknya segala sesuatu tidak dapat diatasi, ingat bahwa Allah selalu menjadi sumber kekuatan kita walaupun kita tidak dapat melihat-Nya. Lihatlah melalui mata iman dan biarkan Allah menunjukkan kemampuan-Nya. Jika hari ini kita sedang tidak dapat melihat Allah sedang bekerja di dalam hidupmu, mungkin persoalannya ada di mata hati kita, bukan pada kekuatan Allah.
Post by: andre
Big Banquet
Lukas 14:15-24
Suatu kali Yesus menceritakan suatu perumpamaan tentang seseorang yang akan mengadakan pesta. Orang itu akan mengadakan jamuan super besar dan akan mengundang banyak orang untuk datang ke pestanya. Dalam tradisi waktu itu, undangan pesta akan disampaikan 2 kali oleh si pembuat pesta. Undangan pertama berupa pemberitahuan tentang pesta jauh hari sebelumnya, dan undangan yang kedua adalah pemberitahuan pada saat pesta sudah siap dilaksanakan. Dalam perumpamaan ini diceritakan bahwa undangan yang kedua yang disampaikan ditolak mentah2 oleh para tamu (gak tau diri banget yak). Ada tamu undangan yang tidak hadir karena harus mengurus tanahnya yang baru, ada yang harus mengurus lembu dan ada juga harus mengurus keluarga. Wajar hal itu membuat si pembuat pesta es-mo-si. Akhirnya pesta yang sangat megah itu menjadi miliki orang-orang miskin, orang-orang cacat dan kaum duafa (padahal mereka hanya menerima sekali undangan dadakan saja).
So… apa yang ingin Yesus katakan dengan perumpamaan ini???
Teman, kita adalah salah satu orang yang menerima undangan tersebut. Allah mengundang kita untuk menikmati jamuan kekal dalam Kerajaan Allah. Sayangnya banyak orang mengabaikan undangannya. Udah tau bakal ada jamuan besar di Kerajaan Allah, kita malah lebih tertarik pada urusan kita sendiri. Udah tau kita diundang ke perjamuan kekal, kita malah memilih untuk mengerjakan pekerjaan yang lain. Bukan kah itu yang sering kali kita lakukan. Kita berdalih bahwa kita terlalu sibuk untuk ngurusin undangan “begituan”. “Apa?!? Gue harus tinggalin masa depan gue buat Kerajaan Allah??” “Cuma orang sinting yang mau tinggalin kenyamanannya buat Kerajaan Allah!” “Jadi guru di pedalaman?!? Sori deh… gue anak tunggal… tumpuan keluarga, mungkin Tuhan undang orang lain aja deh!” “Melayani Tuhan? Kayanya hobby lebih seru deh daripada ngelakuin hal yang ga jelas gt!” Bukan kah respon2 seperti itu yang seringkali keluar dari hati kita buat memenuhi undangan Kerajaan Allah? Banyak orang sekedar mengindahkan undangan yang pertama, sekedar tau tentang Kerajaan Allah dan itu cukup baginya. Ketika undang kedua memanggil untuk segera berangkat, kita menolaknya dengan seribu satu alasan. Yah… dengan kata lain ga pergi juga… ga melayani juga… ga memilih Tuhan juga… Kadang (atau selalu yah?) kita lebih memilih undangan dunia daripada undangan kekal. Kita memilih pilihan kita yang menyenangkan daripada pilihan Allah yang terbaik, kita tertarik dengan waktu yang menyenangkan daripada waktu yang berkualitas dengan Allah, lebih memilih kesempatan yang menghasilkan uang daripada menghasilkan jiwa, lebih memilih cara yang instant daripada proses yang membuat hidup maksimal, lebih memilih yang cantik daripada yang Tuhan mau, lebih memilih kepentingan pribadi atau golongan dari pada kepentingan social(loh?!? Jadi pkn.. maksudanya egois gt loh). Bukankah kita sering gagal dalam memenuhi undangan Kerajaan Allah. Padahal undangan Allah bagi hidup kita adalah even yang paling penting dalam hidup - walaupun itu berarti waktu kita diinterupsi, kesempatan kita dibuang, kekayaan kita diabaikan, kesenangan kita dikorbankan, kebutuhan kita dinomor-duakan, perasaan kita dikorbankan, dan keinginan kita ditunda. Apakah hari ini kita sedang membuat alasan untuk tidak menjawab panggilan Tuhan? Ketika Yesus mau kita meninggalkan impian kita untuk memenuhi panggilan-Nya, ketika Yesus meminta kita meninggalkan hobby kita untuk memenuhi undangan-Nya, ketika Yesus meminta kita untuk mempersembahkan harta kita (waktu, uang, keluarga, orang-orang yang kita kasihi dan segala hal yang sangat penting bagi kita) bagi kekekalan orang lain, maukah kita melangkah memenuhinya? Saya pikir seorang Kristen sejati bukan hanya menerima undangan yang pertama. Orang Kristen yang sejati akan mempersiapkan waktunya bagiPerjamuan di Surga nanti. Dan ketika undangan yang kedua datang, dengan sigap ia akan segera berangkat memenuhinya. Sekali lagi Yesus mengingatkan bahwa ada waktunya Allah akan memberikan undangan itu kepada orang lain dan terlambat bagi kita untuk berbagian di dalamnya. Jangan sampai terlambat! Saya akan pergi ke undangan itu… Apakah anda mau ikut??? Father Bless!
Lord, You’re more than anything
You’re more than gold, more than anything
Lord, You’re everything to me
I will never let You go, never ever let You go
Your love is higher, higher than the heaven
Your mercy’s deeper, deeper than the earth
Your grace is wider, wider than the ocean
I will never let You go, never ever let You go
post by: andre
Coba Lagi
Coba Lagi
Nats: Lukas 5:1-11, Yohanes 21:1-7
Hari itu Petrus dkk lagi kecapean setelah bekerja nangkep ikan semalaman bekerja. Hasil kerja mereka hari itu gagal total alias nol besar karena ga seekor ikan pun yang ketangkep setelah berjuang mati-matian. Akhirna dengan lesu n mungkin BT Petrus dkk beresin jalanya (perlu diketahui, pada waktu itu jala sangat mahal dan menjadi harta satu-satunya bagi para nelayan, membereskan artinya membersihkan dengan hati-hati dan merapikannya). Waktu mereka sedang membereskan jala sebelum mereka pulang, Yesus datang dan duduk dalam perahu Petrus (sekali lagi ditekankan dalam perahu Petrus). Trus, tiba-tiba Yesus meminta Petrus untuk mencoba kembali melayar buat menebarkan jalanya. Sekali lagi, kalau gue jadi petrus kayanya bakalan males banged buat nurutin kata2 Yesus. Gimana ga males coba, orang jalanya udah diberesin susah-susah… orang semaleman udah cape… orang udah BT setengah mateeeee… di suruh lagi ngelakuin hal yang gak masuk akal. Mungkin Petrus mikir kaya gue kali yah… Tapi hari itu Petrus nurut ma Yesus n pergilah ia melaut lagi (walau kayanya saat itu Petrus melakukan apa yang Yesus minta dengan perasaan terpaksa). Tapi Amazing… ketaatan Petrus membuahkan hasil… Dengan mata yang menjadi 100 watt Petrus sangat terkejut… Yang tidak mungkin menjadi mungkin!!! Petrus berhasil menangkap ikan dalam jumlah yang sangat banyak… berlebihan… dan pasti deh Petrus ga pernah nyangka, sama sekali kalo itu bisa terjadi. Btw… bukankah itu yang sering terjadi dalam hidup kita juga. Kita gagal… gagal dalam hubungan, gagal dalam kehidupan, gagal dalam studi, usaha, pekerjaan, gagal mengikut Tuhan… gagal ini… gagal itu dan gagal lagi lagi… lagi dan lagi… dan kita menjadi cape… Kalo hari ini kita lagi ngerasa gagal. Kita diingetin dengan kisah Petrus… Mau ga kita membiarkan Yesus melakukan hal yang sama kaya apa yang Dia lakuin ke Petrus? Ngelakuin apah???
1. Ijinin Yesus masuk dalam perahu hidup kita dan menemani kita
Undang Dia masuk, mengasihi kita, memperhatikan kebutuhan kita, menyembuhkan luka hati kita membimbing kita. Mari buka hati kita yang dah kecapean biar God bimbing (walaupun tampak mustahil, kemungkinannya sangat kecil dan kita uda sangat lelah).
Sekali lagi kalo hari ini kita lagi ngerasa gagal, apakah kita udah mengijinkan Yesus masuk dalam hidup kita? Sakit hati kita, hubungan yang retak (ma ortu-teman-sahabat); masalah yang sulit menemukan jalan keluar, studi, ekonomi, pelayan; pergumulan kita, kerohanian, iman, dosa, kebutuhan hidup kita? Berdoa… minta Dia singgah di perahu hidup kita.
2. Ijinkan Allah melakukannya sekali lagi bersama kita dan lakukanlah dengan taat
Lakukan apa yang ia minta. Dengan ketaatan. Katakan bahwa kita ga mampu beriman tapi jangan sampai ketakutan membuat kita ga taat lagi kepadaNya.
Yuk, kita belajar taat melangkah dan melakukannya sekali lagi bersama dengan Allah. Mencoba sekali lagi buat mengasihi dan mengampuni orang2 yang melukai, mencoba mulai menyapa orang yang tidak kita sukai, mencoba sekali lagu buat bangkit lagi setelah gagal dalam hidup, mencoba sekali lagi mendekatkan diri setelah jauh dari God, mencoba sekali lagi buat memperbaiki pelayanan yang hancur, mulai lagi meningkatkan kualitas saat teduh yang sudah sangat menjemukan. Coba sekali lagi… tapi bareng Yesus.
Akhir kata, hari ini kita diajak buat berefleksi ria. Kegagalan apa yang sedang Anda hadapi hari ini. Yesus ingin kita mencobanya lagi. Sadarilah bahwa Allah memperhatikan setiap hal yang paling kecil sekalipun dalam hidup kita. (Dilihat dari atas pesawat mobil itu tampak sebesar kelingking). Bagi Allah masalah kita sangatlah kecil, tapi Allah memperhatikan bahkan hal yang terkecil sekalipun. Kejadian Petrus kaya gini tuh ini berulang 2 kali (satu lagi di Yohanes 21, setelah Petrus gagal mengikut Yesus karena Petrus menyangkal Yesus). Kenapa 2 kali, karena Yesus pengen mengatakan pada Petrus bahwa seberapa jauh kegagalanmu coba lagi dan jangan menyerah. Aku menyertai kamu! Dan you know guys??? Sepanjang sisa umur hidup Petrus dipersembahkan untuk mengajak orang-orang yang gagal buat “mencoba lagi”. Mencoba lagi bersama dengan Allah. Dan Petrus mengakhiri pertandingan hidupnya dengan sangat baik. Karena Petrus tidak menyerah. Bagaimana dengan kehidupan kita? Father Bless!!!